Belajar dari UMKM di Padang dalam Mengelola Keuangan dan Mengembangkan Usaha

Belajar dari UMKM di Padang dalam Mengelola Keuangan dan Mengembangkan Usaha

Agustus 2026

Kiri ke Kanan: Rice Rizana, Deby Siska, Fahru Gunnardi saat pelaksanaan Kelas TUNAI (Teman UMKM Naik Omset Lewat Literasi Finansial) di Kota Padang, 9 Februari 2026.

Mengelola keuangan usaha merupakan salah satu kunci penting dalam menjaga keberlangsungan bisnis. Bagi pengusaha Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM), kemampuan mengatur arus kas, hingga memanfaatkan layanan keuangan yang tepat dapat membantu usaha tetap berjalan stabil, bahkan saat menghadapi tantangan.

Mari belajar dari sejumlah pengusaha UMKM di Padang yang berhasil mengelola keuangan usaha untuk membantu bisnisnya tumbuh dengan lebih terarah.

Belajar Memperkirakan Jumlah Produksi dari Rice Rizana, Pemilik Usaha Fesyen

Rice Rizana atau yang akrab disapa Cece, menjalankan usaha hijab dengan motif khas Minangkabau. Salah satu tantangannya adalah menentukan jumlah produksi yang tepat, karena produksi harus dilakukan terlebih dahulu sebelum penjualan terjadi.

Di awal menjalankan usaha, keputusan produksi sering didasarkan pada perkiraan. Namun seiring waktu, Cece mulai menyadari pentingnya pencatatan keuangan yang lebih teratur. Dengan mencatat penjualan dan pengeluaran secara konsisten, ia dapat melihat jenis produk yang paling diminati pelanggan dan memberikan keuntungan yang optimal.

Data tersebut menjadi dasar dalam menentukan jumlah produksi setiap bulan. Dengan pendekatan yang lebih terukur, usahanya dapat berkembang dan meningkatkan kapasitas produksi secara bertahap. Saat ini, Cece dapat memproduksi hingga 300 pieces hijab dalam sebulan. Anda juga dapat melihat produknya melalui akun Instagram @hijab_mama3rajo.

Poin yang dipelajari:

  • Wajib mencatat data penjualan secara rutin, tujuannya untuk melihat pola permintaan
  • Gunakan data sebagai dasar dalam menentukan jumlah produksi
  • Hindari mengambil keputusan produksi hanya berdasarkan perkiraan

Menjaga Arus Kas ala Deby Siska, Pemilik Usaha Percetakan di Padang

Jika Anda sempat mengalami situasi dimana bahan baku usaha harus dipenuhi di awal, sementara pembayaran pelanggan tidak langsung diterima, Anda bisa ambil referensi mengelola arus kas ala Deby. Hal pertama yang ia lakukan adalah disiplin mencatat pemasukan dan pengeluaran. Melalui pencatatan keuangan usaha yang rapi, ia dapat memetakan periode pesanan yang ramai dan sepi, sehingga pembelian bahan baku maupun penggunaan kredit seperti paylater bisa direncanakan dengan lebih matang. Ia juga memastikan bahwa cicilan paylater yang diambil tetap sesuai dengan kemampuan keuangan usaha.

Secara spesifik, Deby memanfaatkan paylater untuk membeli mesin cetak dan memilih tenor enam bulan supaya mendapatkan manfaat berupa cicilan 0%. Dengan begitu, produksi dapat tetap berjalan dan membayar cicilan terasa lebih ringan. Saat ini, Deby memiliki total tiga mesin percetakan.

Poin yang dipelajari:

  • Wajib mencatat pemasukan dan pengeluaran secara konsisten
  • Jika ingin menggunakan paylater untuk membeli bahan baku, perkirakan pendapatan usaha dan pastikan Anda memiliki kemampuan membayar
  • Gunakan paylater untuk kebutuhan yang mendukung operasional usaha

Memperkirakan Biaya Usaha versi Fahru Gunnardi, Pemilik Usaha Kerajinan Kulit

Fahru Gunnardi yang akrab dipanggil Gun, menjalankan usaha kerajinan berbahan kulit yang membutuhkan ketelitian dalam menghitung biaya produksi. Dalam bisnisnya, jumlah dan kualitas bahan baku sangat memengaruhi harga jual produk.

Memastikan usahanya tetap kompetitif, Gun mulai membenahi pencatatan transaksi secara lebih detail. Ia menghitung biaya produksi per unit agar dapat menentukan harga jual yang tepat sekaligus merencanakan kebutuhan bahan baku di masa mendatang.

Selain itu, Gun juga memanfaatkan layanan keuangan seperti paylater secara strategis untuk mendukung pengembangan usaha. Biasanya, paylater digunakan untuk membeli aksesoris produk yang stoknya harus dipenuhi secara bulanan. Sama seperti Deby, ia juga memanfaatkan promo cicilan 0% sehingga pembayaran bulanan terasa lebih ringan. Tak hanya itu, ia juga memperkirakan siklus penjualan produk, sehingga arus kas usaha tidak terganggu dan cicilan tetap dapat dibayar tepat waktu. Bermula dari omzet ratusan ribu, kini Gun dapat meraih omzet hingga 10 juta rupiah per bulannya. Anda dapat melihat berbagai produk kerajinan kulit ini melalui akun Instagram @lokak_leather_craft.

Poin yang dipelajari:

  • Hitung biaya produksi secara rinci, yakni per unit sebelum menentukan harga jual
  • Merencanakan kebutuhan bahan baku berdasarkan tren data penjualan
  • Pertimbangkan risiko dan kemampuan bayar sebelum mengambil layanan kredit untuk usaha

Belajar dari Pengalaman Nyata untuk Membangun Usaha yang Lebih Berkelanjutan

Pengalaman para pengusaha UMKM di Padang menunjukkan bahwa memahami kondisi keuangan usaha membuat mereka dapat mengambil keputusan berdasarkan perhitungan yang matang. Dengan begitu, UMKM dapat menjaga stabilitas bisnisnya dan mempersiapkan langkah untuk mengembangkan usaha di masa depan. Belajar dari pengalaman sesama pelaku usaha merupakan sumber inspirasi yang praktis. Selamat menerapkan tipsnya, semoga berhasil ya!

Artikel Rekomendasi