
Saat Kebutuhan Bahan Baku Tak Bisa Menunggu, Dua UMKM Medan Ini Punya Siasat untuk Jaga Roda Bisnis Tetap Berputar
Oktober 2026
Bagi pengusaha Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) di bidang kuliner, memastikan ketersediaan bahan baku merupakan kewajiban yang tidak bisa ditunda. Kehabisan bahan baku, artinya membuka potensi kehilangan pendapatan yang signifikan akibat pesanan yang tidak terpenuhi. Khususnya ketika sebuah bisnis kuliner sudah memiliki pelanggan tetap.
Di tengah aktivitas produksi yang berlangsung cepat setiap harinya, kebutuhan usaha datang silih berganti. Tak hanya menjaga stok bahan baku, tetapi juga membayar pemasok (supplier), hingga memastikan kemudahan dan kenyamanan transaksi pelanggan.
Kondisi tersebut dirasakan Dina (46), pemilik usaha Mango Time, dan Irma (39), sosok di balik Dapoer Ummi Zee yang menyajikan ragam kuliner mulai dari pastry, dimsum, hingga burger Dubai. Kedua pengusaha UMKM yang berbasis di Medan, Sumatera Utara ini menjalankan usaha dengan memanfaatkan layanan keuangan digital untuk mendukung kebutuhan bisnis sehari-hari.
Penjualan Online dan Offline Saling Melengkapi dalam Memperluas Jangkauan Pelanggan
Dina mulai menjalankan Mango Time sejak 2016. Usaha kuliner tersebut mengolah buah mangga menjadi berbagai produk, mulai dari minuman seperti smoothies, hingga es krim. Pada awalnya, Dina hanya berjualan secara offline di pinggir jalan dan menyasar pelanggan di Medan. Seiring mengikuti berbagai pelatihan dan program pembinaan UMKM, ia mulai mengembangkan usahanya hingga kini melayani penjualan secara offline maupun online.
Saat ini, omzet Mango Time berada di kisaran Rp20 juta hingga Rp30 juta per bulan. Namun, mengembangkan usaha kuliner dengan produk segar memiliki tantangan tersendiri. Produk harus diproses, dikemas, dan dikirim dengan baik agar kualitasnya tetap terjaga ketika sampai di tangan pelanggan.

Ketika Kebutuhan Bahan Baku Tidak Bisa Menunggu
Sekitar 80 persen produk Mango Time menggunakan mangga segar sebagai bahan utama. Ada kalanya, Dina harus memborong mangga ketika musim panen sedang bagus untuk menjaga stok ketika pasokan mangga sedang sulit.
Di tengah aktivitas tersebut, Dina mulai menggunakan ShopeePay dan SPayLater sekitar satu tahun terakhir untuk mendukung kegiatan usahanya.
"ShopeePay saya gunakan untuk menerima pembayaran dari pelanggan. Jadi sebagai opsi pembayaran, karena pelanggan banyak yang menggunakan aplikasi tersebut. Lalu, dana yang diterima di dompet digital tersebut langsung saya alokasikan untuk membayar pemasok dan berbagai kebutuhan operasional lainnya," tutur Dina.
Sementara itu, SPayLater digunakan Dina untuk membeli berbagai kebutuhan produksi, seperti bahan untuk membuat kue, frozen fruit, dan perlengkapan usaha lainnya. Bagi Dina, adanya opsi “beli sekarang, bayar nanti” tersebut membantu ketika ada kebutuhan bahan baku yang perlu segera dipenuhi agar proses produksi tetap berjalan. Dengan begitu, kebutuhan usaha dapat dipenuhi terlebih dahulu, sementara pembayaran dilakukan sesuai dengan jadwal atau tenor yang tersedia.
Meski demikian, Dina menekankan bahwa penggunaan layanan kredit digital tetap perlu disesuaikan dengan kebutuhan dan kemampuan membayar. "Menurut saya, layanan seperti ini perlu digunakan secara bijak agar benar-benar membantu usaha dan tidak mengganggu pengelolaan keuangan," ujarnya.
-7285a801efd36707f90486abd803bbe2.png)
Kredit dan Bank Digital untuk Mendukung Pengembangan Produk Usaha
Hal serupa juga dirasakan Irma yang menjalankan usaha kuliner di Medan dengan produk yang cukup beragam, mulai dari roti, pastry, burger, kebab, dimsum, bolen pisang, hingga fudgy brownies. Di tengah persaingan bisnis kuliner yang semakin ketat, Irma kini lebih fokus mengembangkan produk burger dan kebab. Salah satu produk unggulannya adalah Dubai Burger. Untuk membedakan produknya dari kompetitor, ia bereksperimen dan membuat sendiri racikan saus dan patty, sehingga rasa burger miliknya dapat lebih otentik.
Usahanya saat ini memiliki omzet sekitar Rp10 juta hingga Rp11 juta per bulan dan lebih banyak mengandalkan penjualan online. Berbagai promosi digital dan kerja sama dengan content creator juga dimanfaatkan untuk memperkenalkan produknya kepada calon pelanggan. Namun, di balik aktivitas pemasaran tersebut, kelancaran produksi tetap menjadi bagian penting dari keberlangsungan usaha. Untuk itu, Irma memanfaatkan sejumlah layanan keuangan digital dengan fungsi yang berbeda, baik untuk memenuhi kebutuhan pengembangan produk maupun promosi.
SeaBank digunakan untuk berbagai transaksi usaha karena tidak dikenakan biaya administrasi serta dinilai praktis dan dapat diandalkan. Selain itu, Irma juga memanfaatkan ShopeePay sebagai salah satu metode pembayaran bagi pelanggan. Tak hanya itu, ia juga menggunakan layanan SPayLater dengan terukur untuk membeli bahan baku produksi, termasuk saat bereksperimen untuk membuat produk baru.
"Saya menggunakan SPayLater untuk membantu membeli bahan baku. Layanan ini cukup membantu ketika ada kebutuhan produksi yang perlu segera dipenuhi agar kegiatan usaha tetap berjalan," ujar Irma. Menurut Irma, penggunaan SPayLater juga perlu dilakukan secara bertanggung jawab. Ia selalu berusaha melakukan pembayaran tepat waktu agar layanan tersebut tetap dapat dimanfaatkan untuk mendukung kebutuhan usahanya.
Satu Ekosistem Keuangan Digital untuk Berbagai Kebutuhan Usaha
Pengalaman Dina dan Irma menunjukkan bahwa kebutuhan pengusaha UMKM tidak berhenti pada bagaimana mendapatkan pelanggan. Setelah pesanan datang, masih ada rangkaian aktivitas lain yang harus dikelola agar usaha tetap berjalan, mulai dari pengadaan bahan baku hingga pembayaran dan pencatatan transaksi.
Dalam keseharian, keduanya memanfaatkan layanan yang berbeda sesuai dengan kebutuhannya. ShopeePay membantu menyediakan alternatif pembayaran bagi pelanggan sekaligus memudahkan transaksi dengan pemasok. Bagi Dina, riwayat transaksi juga membantu memantau pembayaran yang masuk dan keluar sehingga alur transaksi usaha dapat lebih tertib. Sementara itu, SPayLater menjadi salah satu pilihan ketika kebutuhan bahan baku dan perlengkapan usaha perlu dipenuhi. Dengan mekanisme beli sekarang, bayar nanti, pelaku usaha dapat mengatur waktu pembayaran berdasarkan kemampuan dan jadwal yang tersedia, selama digunakan secara terencana.
Layanan keuangan digital menjadi semakin relevan karena pengelolaan usaha tidak selalu dilakukan oleh satu orang dengan pembagian tugas yang jelas. Dina, misalnya, harus membagi waktu antara mengurus bisnis dan berbagai keperluan lainnya. Dengan memanfaatkan layanan seperti SPayLater dan ShopeePay, beberapa aktivitas transaksi dan pencatatan dapat dilakukan dengan lebih efisien. Bukan untuk menggantikan pengelolaan keuangan yang cermat, tetapi membantu pelaku usaha menjalankan kebutuhan bisnis sehari-hari.
Bagi Dina, harapannya adalah semakin banyak fitur digital yang dapat menjawab kebutuhan UMKM, mulai dari menerima pembayaran, membeli bahan baku, mencatat keuangan, hingga mengelola operasional. Sementara Irma ingin terus mengembangkan produk burger dan kebab sembari mempertahankan ciri khas produknya. Di tengah persaingan kuliner yang semakin ketat, ia ingin menjangkau lebih banyak pelanggan melalui kanal digital tanpa mengesampingkan kualitas produk.
-ed48350413676577fcfec1a3dadbed61.png&w=3840&q=75)

