
Belajar Mandiri Finansial ala Mahasiswa: Jago Kelola Uang Sejak Kuliah
Date of first published on Oktober 2025
Mengatur keuangan di masa kuliah memang nggak selalu mudah, kadang prioritas tergeser dengan padatnya kegiatan perkuliahan, organisasi, magang, dan lainnya. Namun, bagi mahasiswi jurusan Agronomi dan Hortikultura Institut Pertanian Bogor (IPB), Zelika Khotimah (21), mengelola uang dengan cermat justru menjadi kunci agar tetap fokus kuliah dan hidup mandiri tanpa merasa kekurangan.
Sejak awal kuliah, Zelika sudah terbiasa bereksperimen untuk menemukan cara mengelola keuangan yang tepat. Dari uang bulanan tersebut, Zelika membagi ke beberapa pos seperti dana harian, kebutuhan akademik, serta dana darurat.
“Alhamdulillah aku dapat beasiswa dari pemerintah, jadi uang kuliah dan uang saku bulanan sudah ditanggung. Tapi tetap harus dikelola dengan cermat, supaya cukup sampai akhir bulan,” ujarnya.
Dana darurat jadi penyelamat
Untuk dana darurat, Zelika juga mengungkapkan pengetahuannya justru datang dari pengalaman berorganisasi. “Aku belajar bikin dana mengendap, seperti dana darurat gitu. Jadi setiap bulan pasti disisihin walau sedikit. Uang itu nggak boleh dipakai kecuali benar-benar butuh. Misalnya, untuk berobat ketika sakit,” jelasnya.
Selain itu, ia juga memanfaatkan fasilitas asrama dari kampus, sehingga cukup membantu untuk menekan pengeluaran. “Kalau tinggal di asrama, biaya tempat tinggal cuma sekitar satu juta setahun. Ada dapur juga, jadi sering masak bareng teman-teman,” katanya. Dari situ, pengeluarannya lebih efisien tanpa mengorbankan kualitas hidup yang sehat.
Strategi membatasi pengeluaran harian
Mahasiswi asal Pemalang, Jawa Tengah itu juga memiliki rumus sederhana untuk mengatur uang makan dan pengeluaran harian secara umum. Hal itu ia sudah pertimbangkan bahkan sejak awal masuk kuliah, bagaimana perhitungan pengeluaran yang pas untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.
“Kira-kira berapa standar untuk biaya makan, transportasi, dan kebutuhan lainnya. Jadi, jika dalam satu hari aku punya pengeluaran melebihi batas, maka aku akan kurangi pengeluaranku di hari selanjutnya,” tutur Zelika. Ia juga memastikan konsumsi sayur dan buah tetap ada di menu hariannya, karena “kalau sakit, justru keluar uang lebih banyak buat obat,” tambah dia.
Pengalaman ini juga ia tuangkan dalam Story Slam Competition Cerita Finansialku, program edukasi finansial oleh SPayLater yang mengajak mahasiswa membagikan cerita inspiratif tentang cara mengelola keuangan. Melalui kompetisi ini, Zelika membagikan konten edukasi melalui media sosialnya tentang bagaimana mengelola uang secara sederhana, serta sistem menyusun anggaran yang ia kembangkan sejak semester tiga. “Awalnya masih coba-coba, tapi lama-lama ketemu pola yang cocok. Jadi sekarang sudah lebih stabil,” tuturnya.
Bijak memanfaatkan layanan kredit
Dirinya melihat adanya kemudahan bagi generasi muda saat ini dalam mengakses layanan kredit, misalnya layanan paylater. Baginya, kredit merupakan alat bantu untuk mencapai tujuan keuangan jangka panjang dan bisa dimanfaatkan untuk menunjang produktivitas, selama digunakan sesuai kemampuan finansial dan disiplin membayar cicilan.
Ia juga mencontohkan temannya yang membeli motor secara kredit untuk menunjang aktivitas kampus dan organisa si. “Temanku beli motor dengan metode cicilan yang jika ditotal, pengeluaran untuk mencicil dan membeli bensin dapat lebih hemat dari pada harus naik transportasi berbayar lainnya setiap hari,” tambahnya.
Bagi Zelika, kemandirian dan merdeka finansial bukan hanya tentang mengumpulkan uang sebanyak-banyaknya, tetapi seberapa bijak mengelolanya. “Penting banget punya rencana keuangan, walau mulai dari yang sederhana dulu. Pokoknya tahu prioritas dan menyiapkan dana cadangan itu nggak boleh dilewatkan dalam perencanaan,” tutup dia.


